Minggu, 14 September 2014

MEMPERTANYAKAN LETAK DEMOKRASI BANGSA


MEMPERTANYAKAN LETAK DEMOKRASI BANGSA  KITA
Demokrasi secara sederhana adalah memiliki arti dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat. Lalu, benarkah jalannya pemerintahan bangsa ini benar-benar dikawal oleh Rakyat?. Bukankah demokrasi rakyat kita hanya berlaku manakala pemilihan Capres dan Cawapres saja, atau manakala pemilihan wakil rakyat yang begitu mahal biayanya?.
Melihat begitu  kompleksnya permasalahan bangsa ini, masihkah ada rasa optimisme untuk memperbaiki kondisi ini. Sementara, kebanggaan terhadap keberhasilan kecil saja di dalam menyelesaikan problem bangsa ini sudah membuat lupa segalanya. Lihat saja, pertumbuhan ekonomi bangsa kita tidak lebih rendah dari bangsa berkembang lainnya. Begitu kata pemimpin reformasi kita.
Apakah kita lupa bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar, kaya segalanya. Bahkan melebihi Negara maju di Asia dalam hal Sumber Daya Alamnya. Banyak pengamat mempertanyakan Sumber Daya Manusia Indonesia, banyak peneliti mengungkap budaya kerja Manusia Indonesia, banyak sekali para investor mengagumi kekayaan Indonesia. Lalu, apa yang kurang dari Bangsa besar ini.
Jika kita menoleh ke belakang, pemimpin kita dahulu begitu berharap pada generasi selanjutnya. Presiden pertama Indonesia secara berapi-api membakar semangat Rakyat Indonesia dengan optimisnya. Kita bukan bangsa Pengecut, Kita bangsa yang bermartabat. Lawan Amerika, Ganyang Malaysia…!!!. Kemudian, apa yang dapat kita ambil dari ucapan beliau pada masa ini.
Presiden Kedua kita, dengan tidak ragu beliau disebut sebagai Bapak pembangunan Indonesia. Begitu besar harapan beliau terhadap generasi bangsa selanjutnya dengan gerakan pembangunan yang dapat memajukan Indonesia tanpa mengurangi kekurangan dan kelebihan beliau sebagai Manusia biasa yang penuh salah dan dosa.
Presiden Ketiga, membuat kita memahami bahwa IPTEK merupakan suatu niscaya untuk mengangkat martabat dan kemajuan bangsa Indonesia dan dapat memahami bahwa kekuasaan yang Absolut dan otoriter bukanlah budaya bangsa kita, bahkan tidak sesuai dengan hak asasi manusia sebagaimana dalam Ideologi Pancasila landasan bangsa Indonesia.
Presiden Keempat, merupakan titik tolak dari kondisi Indonesia yang begitu besar untuk menjadi bangsa yang besar sesungguhnya. Bahwa reformasi adalah niscaya sebagai bentuk penghapusan terhadap pemerintahan yang tidak berpihak pada Rakyat. Kita juga diajak berfikir maju bahkan bisa dikata melampaui zamannya, semua itu adalah pembelajaran yang besar untuk generasi mendatang.

Presiden Kelima, merupakan sebuah sinyal bahwa Indonesia memiliki budaya yang bhinneka tunggal ika, dan bahwa kaum hawa merupakan patner utama dalam kekuasaan bukan membahas lagi tentang kesetaraan gender. Karena kesetaraan gender bisa dianggap perlawanan terhadap penindasan dari kaum pria yang  pada dasarnya tak ada yang menginginkan perlawanan sebab seharusnya bukan mempertajam perbedaan. Kita dapat belajar pula bahwa masa ini adalah kegalauan senayan.
Presiden Keenam, memiliki komitmen untuk mengaplikasikan ideologi demokrasi dan memerangi berbagai KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Rakyat sudah banyak belajar dewasa berfikir dan memandang demokrasi sebagai suatu keniscayaan dalam hidup yang dipenuhi berbagai budaya dan keaneka ragaman yang menjadi karakter bangsa sejak awal berdirinya. maka, sudah sepatutnyalah kita menunjukkan sebagai warga negara yang memiliki pandangan jauh ke depan. tinggal bagaimana pula kita dapat mengisi awal yang cerah dan menjanjikan dengan hadirnya pemerintahan baru yang akan datang, bukan sebaliknya akan memandang semuanya hanya bingkai memperoleh kesempatan dalam kekuasaan.


Malang, 15 September 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar