MEMPERTANYAKAN LETAK
DEMOKRASI BANGSA KITA
Demokrasi secara sederhana adalah
memiliki arti dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat. Lalu, benarkah
jalannya pemerintahan bangsa ini benar-benar dikawal oleh Rakyat?. Bukankah
demokrasi rakyat kita hanya berlaku manakala pemilihan Capres dan Cawapres
saja, atau manakala pemilihan wakil rakyat yang begitu mahal biayanya?.
Melihat begitu kompleksnya permasalahan bangsa ini, masihkah
ada rasa optimisme untuk memperbaiki kondisi ini. Sementara, kebanggaan
terhadap keberhasilan kecil saja di dalam menyelesaikan problem bangsa ini
sudah membuat lupa segalanya. Lihat saja, pertumbuhan ekonomi bangsa kita
tidak lebih rendah dari bangsa berkembang lainnya. Begitu kata pemimpin
reformasi kita.
Apakah kita lupa bahwa bangsa
kita adalah bangsa yang besar, kaya segalanya. Bahkan melebihi Negara maju di
Asia dalam hal Sumber Daya Alamnya. Banyak pengamat mempertanyakan Sumber Daya
Manusia Indonesia, banyak peneliti mengungkap budaya kerja Manusia Indonesia,
banyak sekali para investor mengagumi kekayaan Indonesia. Lalu, apa yang kurang
dari Bangsa besar ini.
Jika kita menoleh ke belakang,
pemimpin kita dahulu begitu berharap pada generasi selanjutnya. Presiden
pertama Indonesia secara berapi-api membakar semangat Rakyat Indonesia dengan
optimisnya. Kita bukan bangsa Pengecut, Kita bangsa yang bermartabat. Lawan
Amerika, Ganyang Malaysia…!!!. Kemudian, apa yang dapat kita ambil dari
ucapan beliau pada masa ini.
Presiden Kedua kita, dengan tidak
ragu beliau disebut sebagai Bapak pembangunan Indonesia. Begitu besar harapan
beliau terhadap generasi bangsa selanjutnya dengan gerakan pembangunan yang
dapat memajukan Indonesia tanpa mengurangi kekurangan dan kelebihan beliau
sebagai Manusia biasa yang penuh salah dan dosa.
Presiden Ketiga, membuat kita
memahami bahwa IPTEK merupakan suatu niscaya untuk mengangkat martabat dan
kemajuan bangsa Indonesia dan dapat memahami bahwa kekuasaan yang Absolut dan
otoriter bukanlah budaya bangsa kita, bahkan tidak sesuai dengan hak asasi
manusia sebagaimana dalam Ideologi Pancasila landasan bangsa Indonesia.
Presiden Keempat, merupakan titik
tolak dari kondisi Indonesia yang begitu besar untuk menjadi bangsa yang besar
sesungguhnya. Bahwa reformasi adalah niscaya sebagai bentuk penghapusan
terhadap pemerintahan yang tidak berpihak pada Rakyat. Kita juga diajak
berfikir maju bahkan bisa dikata melampaui zamannya, semua itu adalah
pembelajaran yang besar untuk generasi mendatang.
Presiden Kelima, merupakan sebuah
sinyal bahwa Indonesia memiliki budaya yang bhinneka tunggal ika, dan bahwa
kaum hawa merupakan patner utama dalam kekuasaan bukan membahas lagi tentang kesetaraan
gender. Karena kesetaraan gender bisa dianggap perlawanan terhadap penindasan
dari kaum pria yang pada dasarnya tak
ada yang menginginkan perlawanan sebab seharusnya bukan mempertajam perbedaan.
Kita dapat belajar pula bahwa masa ini adalah kegalauan senayan.
Presiden Keenam, memiliki komitmen untuk mengaplikasikan ideologi demokrasi dan memerangi berbagai KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Rakyat sudah banyak belajar dewasa berfikir dan memandang demokrasi sebagai suatu keniscayaan dalam hidup yang dipenuhi berbagai budaya dan keaneka ragaman yang menjadi karakter bangsa sejak awal berdirinya. maka, sudah sepatutnyalah kita menunjukkan sebagai warga negara yang memiliki pandangan jauh ke depan. tinggal bagaimana pula kita dapat mengisi awal yang cerah dan menjanjikan dengan hadirnya pemerintahan baru yang akan datang, bukan sebaliknya akan memandang semuanya hanya bingkai memperoleh kesempatan dalam kekuasaan.
Malang, 15 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar